Headline

Soroti Kekerasan Kerja Hingga MBG, Poros Baru Tangerang Bawa Lima Tuntutan Keras di May Day 2026

Foto : Aliansi Poros Baru Tangerang turun ke jalan pada Jumat (1/5) dengan membawa sederet tuntutan yang menyoroti ketimpangan sosial, masa depan generasi muda, hingga isu perlindungan pekerja.

Thekarawangpost.com - Tangerang | Gelombang kritik terhadap kebijakan pemerintah kembali menggema dalam aksi peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di Kota Tangerang. Aliansi Poros Baru Tangerang turun ke jalan pada Jumat (1/5) dengan membawa sederet tuntutan yang menyoroti ketimpangan sosial, masa depan generasi muda, hingga isu perlindungan pekerja.

Berlokasi di Taman Gajah Kota Tangerang, aksi ini menjadi ruang konsolidasi berbagai elemen gerakan, mulai dari mahasiswa, pelajar, hingga organisasi kepemudaan. 

Di antaranya tergabung SEMMI Tangerang, FAM Tangerang, LMND Banten, hingga PII Tangerang.

Koordinator lapangan, Aditya Nugraha, menegaskan bahwa kondisi ketenagakerjaan saat ini masih jauh dari kata adil. Ia menilai kebijakan yang ada justru memperlebar jurang kesenjangan sosial.

“Regulasi yang berjalan belum berpihak pada rakyat kecil. Buruh masih kesulitan mendapatkan kehidupan yang layak,” ujarnya.

Ancaman “Lost Generation”

Tak hanya menyoroti kondisi pekerja saat ini, massa aksi juga mengangkat kekhawatiran serius terhadap masa depan generasi muda. 

Minimnya lapangan kerja dan tingginya biaya pendidikan dinilai berpotensi melahirkan “lost generation”.

Menurut Aditya, tanpa pembenahan kebijakan ekonomi, generasi muda akan terjebak dalam lingkaran pengangguran yang semakin luas.

“Ini bukan sekadar isu hari ini, tapi ancaman jangka panjang bagi masa depan bangsa,” tegasnya.

Desakan Ratifikasi Konvensi ILO C190

Isu perlindungan pekerja, khususnya dari kekerasan seksual di tempat kerja, menjadi sorotan utama. Massa mendesak pemerintah segera meratifikasi International Labour Organization Convention No. 190 (C190).

Data yang disampaikan menunjukkan urgensi persoalan ini: puluhan ribu kasus kekerasan seksual tercatat, dengan mayoritas bersifat sistemik dan berbasis gender.

“Ratifikasi C190 adalah langkah penting untuk menghadirkan tempat kerja yang aman dan bermartabat,” kata Aditya.

Kritik Program Makan Bergizi Gratis

Aksi ini juga menyinggung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai bermasalah dalam implementasi. 

Aliansi menyoroti ketidakseimbangan antara anggaran besar dengan kualitas gizi yang diterima siswa, serta munculnya kasus keracunan makanan di sejumlah wilayah.

Mereka bahkan menyerukan agar sekolah memiliki hak untuk menolak program tersebut jika dinilai membahayakan kesehatan siswa.

Lima Tuntutan Utama

Dalam aksi tersebut, Poros Baru Tangerang merumuskan lima tuntutan utama:

  1. Memperkuat pengawasan ketenagakerjaan

  2. Menindak tegas perusahaan pelanggar

  3. Mendorong ratifikasi Konvensi ILO C190

  4. Menyusun strategi konkret mengatasi PHK dan pengangguran

  5. Memberikan hak bagi sekolah untuk menolak program MBG

Aksi ini menjadi penanda bahwa peringatan May Day tidak hanya soal seremoni, tetapi juga momentum perlawanan terhadap kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada rakyat. 

Suara dari Tangerang ini mencerminkan keresahan yang lebih luas—tentang keadilan sosial, keamanan kerja, dan masa depan generasi bangsa.


• ZuL 

0 Komentar

© Copyright 2022 - THE KARAWANG POST