![]() |
| Foto : Kegiatan Peringatan hari jadi ke-6 Paguyuban Nur Giri Sapta Rengga Purwajati |
Thekarawangpost.com - Karawang | Peringatan hari jadi ke-6 Paguyuban Nur Giri Sapta Rengga Purwajati menjadi momentum untuk menegaskan pentingnya pelestarian budaya Sunda di tengah derasnya arus digitalisasi. Melalui kegiatan ruwatan warisan budaya leluhur yang digelar di halaman Kantor Kecamatan Purwasari, Kabupaten Karawang, Minggu (28/6/2026), paguyuban tersebut mengajak masyarakat tidak sekadar mengenang tradisi, tetapi juga menghidupkannya sebagai bagian dari pendidikan karakter bangsa.
Acara yang dipimpin Ketua Paguyuban H. Ardi di bawah pembinaan pendiri paguyuban, Nji Pelung (Asep Sujana), diawali dengan prosesi adat babarit dan arak-arakan dongdang sebagai simbol rasa syukur atas hasil bumi sekaligus doa untuk keselamatan, keharmonisan, dan kelestarian budaya warisan leluhur.
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah unsur pemerintah, aparat, budayawan, dan tokoh adat. Hadir di antaranya Camat Purwasari H. Nendi Sopandi, S.Kom., M.M., Kapolsek Purwasari Iptu Cahya Hardiansyah, S.H., Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Karawang Waya Karmila, S.Pd., serta Anggota DPRD Kabupaten Karawang H. Erick Heryawan Kusumah, S.E.
Tidak hanya itu, acara juga dihadiri perwakilan Keraton Kasepuhan Cirebon, tokoh adat dari Kuningan, Majalengka, Sumedang, Garut, Kesultanan Banten, serta berbagai komunitas seni dan budaya dari Kabupaten Karawang.
Dalam sambutannya, H. Ardi menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui kegiatan seremonial. Menurutnya, diperlukan keberpihakan pemerintah dalam bentuk regulasi yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam sistem pendidikan.
"Kami berharap ada dukungan dari DPRD, khususnya H. Erick Heryawan Kusumah, untuk mendorong lahirnya regulasi pendidikan karakter berbasis budaya, baik di tingkat daerah maupun nasional. Generasi muda harus mengenal akar budayanya agar tidak kehilangan identitas di tengah perkembangan teknologi dan era digital," ujarnya.
Senada dengan itu, pendiri Paguyuban Nur Giri Sapta Rengga Purwajati, Nji Pelung atau Asep Sujana, mengatakan bahwa ruwatan budaya merupakan media edukasi bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk memahami nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.
Menurutnya, setiap rangkaian kegiatan memiliki makna filosofis. Arak-arakan dongdang yang berisi hasil panen mencerminkan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan, sementara pertunjukan tari Jaipong, pencak silat, debus, hingga pameran benda-benda pusaka menjadi simbol kekayaan budaya yang harus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
"Budaya bukan sekadar tontonan, tetapi tuntunan. Warisan leluhur ini harus terus dirawat agar tidak hilang tergerus perubahan zaman," kata Nji Pelung.
Peringatan hari jadi ke-6 Paguyuban Nur Giri Sapta Rengga Purwajati pun menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya membutuhkan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dunia pendidikan, dan para pemangku kepentingan. Sebab, menjaga budaya berarti menjaga jati diri bangsa.
OCA

0 Komentar