![]() |
| Foto : Endang Nupo |
Thekarawangpost.com - Karawang | Di tengah dunia jurnalistik yang kini bergerak serba cepat, digital, dan instan, perjalanan Endang Nupo justru lahir dari proses yang panjang. Bukan dari kemudahan teknologi, melainkan dari ketekunan, disiplin, dan pengalaman menembus kerasnya dunia pers sejak awal 1994.
Kini, sosok yang dikenal rendah hati, humoris, namun tegas dalam memegang prinsip jurnalistik tersebut dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Kabupaten Karawang, sekaligus memimpin redaksi Nuansa Metro.
Perjalanan itu tidak dibangun dalam semalam.
Jauh sebelum dikenal sebagai pimpinan media, Endang Nupo terlebih dahulu menjalani proses panjang sebagai jurnalis. Sejumlah media menjadi "sekolah" jurnalistiknya, mulai menulis di Majalah Suara Generasi, Koran Sentana, Koran Sinar Pagi, Tabloid Purna Yudah hingga Koran Medikom.
Di era tersebut, menjadi wartawan bukan pekerjaan yang serba mudah seperti sekarang. Teknologi digital belum menjadi bagian dari keseharian jurnalis. Setiap informasi harus diperjuangkan melalui proses yang panjang.
Untuk mendapatkan satu berita, misalnya, wartawan harus melakukan wawancara dengan alat perekam, mencatat poin-poin penting di buku tulis agar tidak ada informasi yang terlewat, kemudian mengetik ulang hasil wawancara.
Begitu pula dengan foto. Kamera masih menggunakan film dan hasil jepretan harus melalui proses pencucian klise sebelum dapat digunakan.
Ribet, lambat, tetapi justru di situlah mental jurnalistik ditempa.
Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting bagi Endang Nupo dalam memahami bahwa jurnalistik bukan sekadar menulis berita. Ada ketelitian, keberanian, tanggung jawab, dan konsistensi yang harus dijaga.
Dari Reporter Menjadi Pendiri Media
Pengalaman sebagai reporter kemudian membawanya naik ke level berikutnya.
Pada periode 1998–1999, Endang Nupo bersama sejumlah rekan seperjuangan mendirikan Koran KEJAR. Media tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan panjangnya, sekaligus membuka jalan bagi dirinya untuk tidak hanya menjadi jurnalis, tetapi juga menjadi bagian dari dunia pengelolaan dan kepemilikan media.
Perjalanan tersebut kemudian berlanjut dengan penerbitan Koran Media Pantura bersama rekan-rekan seperjuangan.
Hingga akhirnya, dengan modal keberanian dan finansial yang dimilikinya sendiri, pada penghujung 1999 menuju awal tahun 2000, lahirlah Koran Nuansa Pos yang kemudian menjadi salah satu identitas penting dalam perjalanan jurnalistik Endang Nupo.
Namun, Endang tidak berhenti pada satu format dan satu model media.
Ia membaca perubahan selera pembaca sekaligus melihat peluang di tengah perkembangan industri media.
Gebrakan Tabloid Nuansa Mistis
Pada 2004, Endang Nupo membuat gebrakan dengan mendirikan Tabloid Nuansa Mistis.
Mengusung tema misteri, budaya, dan spiritual, tabloid tersebut sempat mengalami masa kejayaan dan memiliki pembaca fanatik di sejumlah daerah.
Keberhasilan Nuansa Mistis menunjukkan satu hal penting, Endang bukan hanya memiliki naluri jurnalistik, tetapi juga mampu membaca karakter dan kebutuhan pasar media.
Di tengah persaingan penerbitan yang semakin ketat, kemampuan membaca tren menjadi modal penting untuk mempertahankan keberlangsungan sebuah media.
2009, Nuansa Metro Memasuki Era Digital
Perubahan besar kembali terjadi pada 2009.
Koran Nuansa Pos bertransformasi menjadi Nuansa Metro.
Transformasi tersebut bukan sekadar pergantian nama. Nuansa Metro hadir dengan format yang lebih modern, sekaligus mulai membangun portal berita berbasis website sebagai bentuk adaptasi terhadap perkembangan teknologi informasi.
Rubrikasi ditata, konten berita diperbaiki, dan standar jurnalistik terus didorong agar mampu mengikuti perubahan zaman.
Langkah tersebut menjadi titik penting karena industri pers mulai bergerak meninggalkan dominasi media cetak menuju era digital.
Endang memilih beradaptasi daripada bertahan pada pola lama.
Keputusan itu terbukti penting. Hingga kini, Nuansa Metro tetap eksis dan menjadi salah satu media yang dikenal di wilayah Karawang, Pantura dan daerah lainnya.
Dari Era Analog Hingga Digital
Lebih dari tiga dekade perjalanan jurnalistik membuat Endang Nupo menjadi salah satu saksi perubahan besar dunia pers.
Ia merasakan bagaimana wartawan bekerja dengan buku catatan, kamera film dan mesin ketik, kemudian berhadapan dengan komputer, internet, website, media sosial hingga ekosistem media digital yang serba cepat.
Perjalanan menulis berita dari Majalah Suara Generasi, Tabloid Purna Yudha, Koran Sentana, Koran Sinar Pagi, koran Medikom, Koran KEJAR, Media Pantura, Nuansa Pos hingga Nuansa Metro menjadi rangkaian panjang yang membentuk karakter dan prinsipnya sebagai insan pers.
Pengalaman tersebut pula yang kemudian mengantarkannya dipercaya memimpin AMKI Kabupaten Karawang.
Bagi Endang, jabatan bukan sekadar simbol. Ada tanggung jawab untuk ikut menjaga profesionalitas dan keberlangsungan media di tengah perubahan industri pers yang begitu cepat.
Tetap Rendah Hati dan Gemar Berbagi
Di balik perjalanan panjang tersebut, Endang Nupo dikenal oleh rekan-rekannya sebagai sosok yang tetap sederhana.
Ia dikenal baik, rendah hati dan humoris. Namun, dalam urusan pemberitaan, ia disebut memiliki prinsip yang tegas.
Pengalaman puluhan tahun membuatnya tidak segan berbagi ilmu kepada para jurnalis muda yang baru memasuki dunia pers.
"Beliau panutan kami. Saksi hidup pers dari era analog sampai digital. Dari Koran KEJAR sampai boomingnya Tabloid Nuansa Mistis. Orangnya baik, rendah hati, humoris, tetapi tegas soal prinsip berita. Menjadi pimpinan redaksi tidak semudah membalikkan telapak tangan," ujar seorang jurnalis senior di Karawang.
Kalimat tersebut menggambarkan perjalanan seorang jurnalis yang tumbuh bukan dari kemudahan teknologi, melainkan dari pengalaman panjang dan proses yang tidak selalu mudah.
Catatan Lusuh yang Menjadi Sejarah
Kini, ketika berita dapat ditulis dalam hitungan menit dan disebarkan ke ribuan pembaca hanya melalui satu perangkat telepon, perjalanan Endang Nupo menjadi pengingat bahwa dunia jurnalistik pernah ditempa dengan cara yang jauh berbeda.
Dari buku catatan lusuh, alat perekam, kamera film dan proses panjang mencetak berita, hingga portal digital yang bergerak hampir tanpa batas waktu.
Perjalanan Endang Nupo sejak 1994 adalah perjalanan tentang konsistensi.
Ia bukan hanya berpindah dari satu media ke media lain, tetapi ikut melewati perubahan zaman dalam industri pers.
Dari seorang reporter, menjadi pendiri media, membangun dan mengembangkan penerbitan, hingga dipercaya memimpin redaksi dan organisasi profesi media.
Pada akhirnya, perjalanan panjang tersebut menyisakan satu pesan sederhana, di tengah cepatnya perubahan teknologi, integritas, ketekunan, dan kesetiaan terhadap profesi tetap menjadi modal utama seorang jurnalis.
Dan Endang Nupo telah membuktikannya dari catatan lusuh di era analog hingga portal berita di era digital.
• Fit

0 Komentar