Nuansametro.com - Karawang | Persiapan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) digital serentak di 67 desa Kabupaten Karawang pada November 2026 mulai memasuki fase penting. Di tengah penyesuaian keuangan daerah, efisiensi anggaran dan optimalisasi sumber daya manusia (SDM) lokal kini menjadi sorotan.

Salah satu gagasan yang mengemuka adalah melibatkan kembali mantan anggota Panitia 11 Pilkades Digital dari sembilan desa yang telah memiliki pengalaman menyelenggarakan pemilihan berbasis teknologi pada tahun sebelumnya.

Mereka dinilai tidak perlu lagi beradaptasi dari nol karena telah memahami mekanisme teknis Pilkades digital. Pengalaman tersebut dianggap dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari tim teknis maupun relawan IT lokal.

Aspirasi itu disampaikan mantan Panitia 11 Pilkades Digital 2025 asal Desa Cikampek Utara, Kecamatan Kotabaru, Gusti Sevta Gumilar atau yang akrab disapa Djunot, melalui siaran pers kepada wartawan, Kamis (20/8/2026).

Menurut Djunot, pemberdayaan SDM lokal berpengalaman dapat menjadi pilihan realistis bagi Pemerintah Kabupaten Karawang untuk menekan biaya pelaksanaan Pilkades digital.

“Kalau berbicara efisiensi anggaran, lebih baik memberdayakan SDM lokal yang sudah memiliki pengalaman dan kompetensi daripada harus mendatangkan SDM dari luar daerah,” kata Djunot.

Pengalaman Eks Panitia Jangan Terbuang

Djunot mengatakan, mantan Panitia 11 dari sembilan desa yang sebelumnya menjadi lokasi pelaksanaan Pilkades digital telah memiliki pengalaman langsung dalam mengawal proses pemilihan dengan sistem hybrid.

Menurutnya, pengalaman tersebut merupakan aset pengetahuan yang dapat digunakan untuk membantu 67 desa yang akan melaksanakan Pilkades digital pada 2026.

Bahkan, peran mereka tidak harus terbatas pada persoalan teknis saat hari pemungutan suara. Para eks panitia juga dapat dilibatkan dalam bimbingan teknis, pendampingan Panitia 11 yang baru serta edukasi kepada masyarakat.

“Dengan demikian, pengalaman yang telah diperoleh dari pelaksanaan sebelumnya tidak berhenti setelah tahapan pemilihan selesai. Tetapi dapat menjadi modal pengetahuan untuk memperkuat kesiapan penyelenggara di tingkat desa,” paparnya.

Gagasan tersebut menjadi semakin relevan karena pelaksanaan Pilkades digital tidak hanya membutuhkan perangkat teknologi, tetapi juga SDM yang memahami sistem, mampu memberikan pendampingan dan cepat menangani persoalan teknis di lapangan.

Dorong Bentuk Tim Relawan IT Lokal

Lebih jauh, Djunot mendorong Pemkab Karawang melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) membuka ruang koordinasi dengan para mantan Panitia 11.

Koordinasi tersebut diharapkan dapat mengkaji kemungkinan pembentukan Tim Relawan IT lokal yang dapat mendukung pelaksanaan Pilkades Digital 2026

Menurut Djunot, tim tersebut dapat menjadi jembatan antara pengalaman Pilkades digital sebelumnya dengan kebutuhan teknis di 67 desa yang akan menggelar pemilihan.

“Gagasan ini bertumpu pada tiga hal utama, yakni efisiensi anggaran, pemberdayaan SDM lokal, serta keberlanjutan transfer pengetahuan teknologi di tingkat akar rumput,” ujarnya.

Ia menilai, apabila konsep tersebut dirancang dengan mekanisme yang jelas dan tetap mengikuti aturan penyelenggaraan Pilkades, pelibatan SDM lokal berpengalaman berpotensi memberikan manfaat ganda.

Selain menekan kebutuhan biaya untuk mendatangkan tenaga teknis dari luar daerah, Pemkab juga dapat membangun ekosistem SDM teknologi lokal yang semakin mandiri.

“Apabila dapat dikaji dan diimplementasikan secara tepat, tentunya keterlibatan SDM lokal sangat berpengalaman diharapkan dapat menjadi salah satu strategi untuk mendukung pelaksanaan Pilkades Digital serentak 2026 yang lebih efektif, efisien, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi,” pungkasnya.

Usulan tersebut kini menjadi salah satu gagasan yang dapat dipertimbangkan dalam mematangkan pelaksanaan Pilkades digital serentak di Karawang.

Di tengah tuntutan efisiensi anggaran, pengalaman SDM lokal menjadi modal yang dinilai terlalu berharga jika hanya berhenti setelah pesta demokrasi desa selesai. Teknologi boleh berubah, tetapi pengetahuan dan pengalaman harus terus diwariskan. (***)