![]() |
| Foto : Permata Bank menghadirkan program Permata CERITA (Cinta dan Edukasi daRI kiTA) 2026 untuk menanamkan kesadaran finansial sejak bangku sekolah di SMPN 1 Karawang Barat. |
Thekarawangpost - Karawang | Di tengah pesatnya perkembangan teknologi keuangan, kemampuan mengelola uang dan mengenali ancaman penipuan digital menjadi bekal penting bagi generasi muda.
Menjawab tantangan tersebut, Permata Bank menghadirkan program Permata CERITA (Cinta dan Edukasi daRI kiTA) 2026 untuk menanamkan kesadaran finansial sejak bangku sekolah.
Memperingati hari jadi Permata Bank ke-24, program edukasi ini digelar serentak di 24 kota di Indonesia, termasuk Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Di daerah ini, kegiatan menyasar siswa-siswi SMPN 1 Karawang Barat melalui program Permata Hati yang dikemas secara interaktif, edukatif, dan menyenangkan.
Program tersebut melibatkan karyawan Permata Bank sebagai Employee Volunteers (EVO) yang turun langsung mendampingi para pelajar.
Mereka tidak hanya memperkenalkan konsep dasar pengelolaan keuangan, tetapi juga mengajak siswa memahami risiko yang mengintai di tengah semakin mudahnya transaksi digital.
Materi edukasi meliputi cara membedakan kebutuhan dan keinginan, penggunaan pembayaran digital secara bijak, serta peningkatan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan atau fraud awareness.
Bukan Sekadar Mengenal Uang, Tetapi Belajar Mengambil Keputusan
Literasi keuangan bagi pelajar bukan lagi sekadar pengetahuan tambahan. Kemudahan transaksi digital menuntut generasi muda memiliki kemampuan memilah prioritas, mengendalikan pengeluaran, dan memahami risiko sebelum mengambil keputusan finansial.
Tanpa pemahaman yang memadai, kemudahan teknologi berpotensi membuat anak-anak lebih rentan terhadap perilaku konsumtif maupun berbagai bentuk kejahatan finansial.
Karena itu, pendekatan praktik langsung dalam Permata CERITA 2026 menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Para siswa didorong memahami bagaimana menentukan prioritas pengeluaran, menggunakan layanan pembayaran digital secara bertanggung jawab, serta bersikap waspada ketika menghadapi tawaran atau transaksi yang mencurigakan.
Harapannya, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada pemahaman teori, melainkan menjadi kebiasaan positif yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala SMPN 1 Karawang Barat, N. Devi Deliana, serta Chief Operations Officer Permata Bank, Mujur Tandi. Para siswa dan relawan karyawan Permata Bank turut terlibat dalam rangkaian kegiatan edukasi tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Permata Bank juga menyerahkan bantuan kepada SMPN 1 Karawang Barat sebagai bagian dari kegiatan sosial yang menyertai pelaksanaan program.
![]() |
| Foto : Permata Bank memberikan bantuan kepada SMPN 1 Karawang Barat yang diterima oleh Kepala Sekolah |
Tantangan Besar: Jangan Berhenti Pada Kegiatan Seremonial
Kehadiran Permata CERITA 2026 menjadi salah satu upaya memperluas akses pendidikan keuangan bagi generasi muda. Namun, keberhasilan program literasi keuangan tidak cukup diukur dari terselenggaranya kegiatan atau banyaknya peserta yang mengikuti edukasi.
Tantangan sesungguhnya adalah memastikan materi yang diberikan benar-benar dipahami dan diterapkan oleh para pelajar, baik ketika mengelola uang saku, menentukan kebutuhan sehari-hari, maupun saat berhadapan dengan layanan keuangan digital.
Edukasi yang berkelanjutan, dukungan sekolah, dan keterlibatan keluarga menjadi faktor penting agar pemahaman finansial tumbuh menjadi kebiasaan, bukan sekadar pengetahuan sesaat.
Melalui Permata CERITA 2026, Permata Bank berupaya menghadirkan ruang belajar yang inklusif dan relevan dengan kehidupan pelajar. Program ini sekaligus menegaskan pentingnya membekali generasi muda dengan kecakapan finansial di tengah perubahan pola transaksi masyarakat.
Pada akhirnya, generasi yang cerdas secara finansial bukan hanya mereka yang mampu menghitung uang, tetapi juga yang mampu menentukan prioritas, mengendalikan keinginan, memahami risiko, dan melindungi diri dari ancaman kejahatan digital.
Literasi keuangan sejak dini menjadi investasi pengetahuan yang penting. Kini, pekerjaan rumahnya adalah memastikan edukasi tersebut terus hidup dalam kebiasaan para pelajar, jauh setelah kegiatan berakhir. (Irfan)


0 Komentar